inetnews.co.id — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran meluncurkan serangan rudal yang menargetkan wilayah sekitar fasilitas nuklir Dimona di Israel.
Serangan yang terjadi pada Jumat (20/3/2026) itu disebut sebagai aksi balasan cepat Teheran atas serangan udara Israel sebelumnya yang menghantam fasilitas nuklir Iran di Natanz, Provinsi Isfahan.
Eskalasi ini terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam, menandai peningkatan konflik terbuka antara kedua negara yang selama ini terlibat dalam ketegangan berkepanjangan.
Sejumlah analis menilai, langkah Iran mencerminkan perubahan strategi militer yang kini lebih agresif dan langsung menyasar target strategis Israel. Pendekatan ini menunjukkan pola “serangan dibalas serangan” terhadap fasilitas vital masing-masing pihak.
Pakar hubungan internasional Iran, Morteza Simiari, menyebut serangan ke Dimona sebagai pesan tegas bahwa setiap aksi militer terhadap Iran akan dibalas dengan intensitas lebih tinggi.
Di pihak Israel, situasi di wilayah selatan dilaporkan sempat mencekam. Serangan rudal menyebabkan puluhan korban luka, sementara informasi terkait dampak terhadap fasilitas nuklir masih dibatasi oleh otoritas militer setempat.
Sementara itu, International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan belum menemukan indikasi kerusakan serius berdasarkan pemantauan radiasi. Namun lembaga tersebut mengingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir sangat berisiko memicu bencana besar.
Konflik ini semakin memanas sejak insiden besar pada akhir Februari 2026 yang menewaskan tokoh penting Iran, memicu rangkaian serangan balasan terhadap target yang berkaitan dengan Israel dan sekutunya.
Situasi terkini menimbulkan kekhawatiran global, karena berpotensi berkembang menjadi konflik berskala besar yang dapat menyeret negara-negara lain di kawasan maupun kekuatan dunia.
Editor : Amor/ID
Follow Berita Inetnews.co.id di Tiktok







