Daerah  

Beautiful Malino 2026 Masuk KEN, Kolaborasi Media Dikuatkan di Iftar 2026

Bupati Gowa. Hj. Sitti Husniah Talenrang dipandu pembawa acara dalam Gowa Collaboration Iftar 2026 dan Bagan destinasi alam dan event Beativul Malino (foto kolase)

inetnews.co.id — Momen buka puasa bersama dalam agenda Gowa Collaboration Iftar 2026 bukan sekadar silaturahmi Ramadan. Di Baruga Tinggimae, Sabtu (28/2), terlihat jelas bahwa panggung itu juga menjadi ruang konsolidasi citra dan strategi kepemimpinan Husniah Talenrang.

Bupati Gowa. Husniah Talentang berbicara soal pariwisata. Tapi jika dibaca lebih dalam, ini adalah langkah memperkuat positioning politik berbasis kinerja dan kolaborasi.

Di hadapan para jurnalis baik media cetak, media online, media televisi maupun elektronik lainnya serta para influencer terdiri dari konten kreator, tiktokers, selebgram, youtuber dan lainnya, Husniah memberikan pemaparan tentang keinginannya menasionalisasi destinasi wisata di Kabupaten Gowa

Sorotan utamanya tetap pada Beautiful Malino yang kembali masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata.

Masuknya Beautiful Malino dalam 125 event unggulan nasional bukan hanya kebanggaan daerah. Itu adalah legitimasi pusat terhadap daya saing event Gowa.

BACA JUGA  Kisah Inspiratif H. Jamaris dan Wartawan Gowa dalam Membangun Daerah

“Tren pariwisata kita naik signifikan. Ini peluang besar untuk meningkatkan PAD,” ujar Husniah

Namun, 2026 bukan tanpa tantangan. Pemangkasan anggaran akibat efisiensi dan turunnya DAK membuat alokasi dana Beautiful Malino harus disesuaikan. Jika sebelumnya dianggarkan Rp1 miliar, kini jumlahnya dipastikan berkurang.

Alih-alih mundur, Husniah memilih beradaptasi. Durasi event dirancang lebih ringkas menjadi tiga hari. Konsep dibuat lebih padat dan efektif. Pintu sponsor dibuka lebar untuk pihak ketiga.

“Saya tidak ingin semuanya bergantung pada APBD. Kita harus kolaborasi,” tegasnya.

2025 menunjukkan 115.102 pengunjung dengan transaksi Rp11,3 miliar. Angka itu menjadi amunisi politik yang kuat — karena berbasis capaian nyata, bukan sekadar janji.

Pemangkasan hingga 70 persen di berbagai SKPD memaksa penyesuaian dana event. Di sinilah strategi Husniah terlihat: bukan defensif, melainkan adaptif.

BACA JUGA  Bupati Dan Wabup Bagikan Alsintan Mekanisasi Pertanian Pada Poktan Enrekang Dari Mentan RI

Durasi event dipadatkan dari lima hari menjadi tiga hari. Sponsor pihak ketiga dibuka. Kolaborasi media diperluas. Artinya, ia sedang membangun model kepemimpinan partisipatif, bukan birokratis.

Menggandeng jurnalis dan influencer dalam forum iftar juga bukan langkah spontan. Di era digital, opini publik banyak dibentuk di ruang media dan platform sosial. Mengajak mereka berbicara dari sisi positif Gowa adalah strategi membangun narasi kolektif.

Langkah ini sekaligus memperlihatkan pendekatan soft power — membangun citra melalui komunikasi, bukan konfrontasi.

Evaluasi kebersihan, keamanan, dan akses jalan menuju Malino menunjukkan kesadaran terhadap kritik publik. Ini memberi kesan bahwa pemerintah tidak anti-masukan.

Secara politik lokal, strategi ini memperkuat tiga hal:

  1. Legitimasi kinerja melalui data kunjungan dan transaksi.

  2. Citra kolaboratif dengan media dan stakeholder.

  3. Kemampuan bertahan di tengah efisiensi anggaran.

BACA JUGA  Kajari Enrekang Rakor Pengawasan Aliran Keagamaan PAKEM

Dari meja buka puasa Ramadan, pesan yang dibangun jelas kepemimpinan bukan soal besarnya anggaran, tetapi kecerdasan mengelola peluang.

Beautiful Malino 2026 bukan sekadar festival. Ia kini menjadi simbol bagaimana Pemkab Gowa memadukan ekonomi, pariwisata, komunikasi publik, dan strategi politik dalam satu panggung.

(ID Mr)
Follow Berita: Inet News di TikTok