inetnews.co.id — Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) terus menyalurkan bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai bagian dari program perlindungan sosial tahun 2025.
Penyaluran bansos di bulan September ini memasuki tahap ketiga dari total empat tahap sepanjang tahun.
Namun, tak semua penerima lama kembali mendapat bansos. Kemensos melakukan evaluasi dan pencoretan sejumlah nama penerima berdasarkan hasil verifikasi terbaru.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengungkapkan pihaknya telah melakukan ground check terhadap 12 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dan hasilnya sekitar 1,9 juta KPM dinyatakan tidak lolos karena tidak memenuhi syarat.
Dari jumlah itu, ditemukan lebih dari 600 ribu penerima diduga terindikasi terlibat judi online.
Fenomena ini juga dirasakan oleh warga Kelurahan Banta-Bantaeng, Kecamatan Rappocini, Makassar. Beberapa penerima bansos sebelumnya kaget karena namanya hilang dari daftar penerima tahap ketiga, padahal kondisi ekonomi mereka masih masuk kategori miskin.
Sebelumnya, mereka rutin mendapat bantuan berupa beras dan uang tunai. Kini, dengan alasan desil kesejahteraan sosial dan pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), nama mereka tidak lagi terdaftar.
Lurah Banta-Bantaeng, Ady Mulyadi Jacub, S.Sos, menjelaskan pihaknya sudah melakukan pengecekan dan pemilahan data sesuai kondisi ekonomi warga.
Ia bahkan turun langsung menampung aspirasi masyarakat yang merasa berhak namun tidak lagi menerima bantuan.
“Dari data yang kami usulkan, ada warga yang masih ngontrak dan buruh harian. Namun, nama mereka hilang. Sementara ada nama baru yang muncul, mungkin itu dari pendamping PKH,” kata Ady, Selasa (23/9/2025).
Ady meminta warga yang merasa keberatan agar menanyakan langsung ke pendamping PKH masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, H. Andi Bukti Djufrie, menjelaskan bahwa penerima bansos ditentukan melalui musyawarah kelurahan berdasarkan kategori desil kesejahteraan.
“Setiap penerima bantuan itu sudah dimusyawarahkan di kelurahan. Dari musyawarah itulah ditentukan warga masuk desil berapa,” singkat Andi Bukti.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah warga yang dicoret dari daftar penerima bansos masih bertanya-tanya alasan hilangnya nama mereka, meski kondisi ekonomi belum membaik.
Editor : Mk/ID Mr
Follow Berita : Inet News di TikTok







