inetnews.co.id — Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh kabar sensasional yang menyebut Bumi akan kehilangan gravitasi selama tujuh detik pada 12 Agustus 2026.
Klaim tersebut menyebut manusia dan berbagai benda di permukaan Bumi akan melayang sebelum terhempas kembali ketika gravitasi muncul lagi.
Narasi ini menyebar luas melalui video viral di TikTok dan Instagram, meski akun pengunggah awal kini telah menghilang.
Dalam video tersebut, pembuat konten bahkan menuding NASA telah mengetahui fenomena itu sejak lama namun sengaja menutupinya dari publik.
“Pada 12 Agustus 2026, gravitasi Bumi akan hilang selama tujuh detik. NASA tahu, tapi tidak akan memberi tahu masyarakat,” demikian klaim dalam video yang telah ditonton jutaan kali sebelum dihapus.
Video itu memaparkan skenario dramatis, seolah peristiwa akan berlangsung bertahap—manusia terangkat perlahan, kendaraan melayang, hingga jutaan orang diklaim akan jatuh bersamaan saat gravitasi kembali aktif.
Namun, klaim tersebut dipastikan tidak memiliki dasar ilmiah dan tergolong hoaks.
Mengutip laporan IFLScience, pemilihan tanggal 12 Agustus 2026 berkaitan dengan gerhana Matahari total yang memang akan terjadi dan dapat diamati di wilayah Arktik serta sebagian Eropa.
Fenomena astronomi semacam ini kerap dimanfaatkan untuk membangun narasi bencana demi menarik perhatian publik.
Pembuat hoaks juga mengaitkan klaimnya dengan dugaan perpotongan gelombang gravitasi dari lubang hitam, yang disebut telah diprediksi sejak 2019 dan diketahui NASA selama bertahun-tahun.
Penjelasan tersebut terdengar ilmiah, namun keliru. Dalam fisika, gelombang gravitasi tidak dapat mematikan gaya gravitasi dan tidak bisa diprediksi secara spesifik jauh hari.
Selain itu, NASA bukan lembaga utama pengamat gelombang gravitasi. Penelitian fenomena ini dilakukan oleh kolaborasi internasional LIGO–Virgo–KAGRA.
Para ilmuwan menegaskan bahwa gravitasi tidak bekerja seperti saklar listrik yang bisa mati dan menyala.
Agar Bumi benar-benar kehilangan gravitasi, planet ini harus kehilangan massanya secara total. Jika itu terjadi, Bumi dipastikan sudah hancur.
Secara ilmiah, selama Bumi masih ada, gaya gravitasinya tidak mungkin hilang, apalagi hanya dalam hitungan detik.
Dengan demikian, kabar tentang Bumi kehilangan gravitasi selama tujuh detik pada 2026 adalah informasi palsu tanpa dasar sains apa pun.
Masyarakat diimbau lebih kritis terhadap konten viral, terutama yang mengatasnamakan lembaga ilmiah dan dikaitkan dengan narasi kiamat atau bencana global.






