inetnews.co.id — Di sebuah rumah kayu sederhana di Dusun La’nyara, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar hidup seorang pria paruh baya bernama Daeng Nyengka .
Tubuhnya kini lemah, terbaring tak berdaya karena komplikasi penyakit yang dideritanya hampir setahun. Ia tak memiliki BPJS Kesehatan , tak mendapatkan bantuan sosial , dan bahkan dapurnya sudah lama tak mengepul.
Hidupnya kini bergantung pada kepedulian tetangga yang sesekali datang membawa makanan seadanya.
“Kasihan sekali, Nak… dia sakit parah tapi tidak punya apa-apa. Kami hanya bisa membantu seadanya,” ucap seorang warga dengan nada sedih kemedia ini, Senin.(3/11/2025)
Di tengah kenaikan-pikuk program kesejahteraan yang digembar-gemborkan pemerintah, kisah pilu Daeng Nyengka menjadi cermin kejahatan sistem sosial yang seharusnya berpihak pada rakyat kecil.
Ia tidak tercatat dalam daftar penerima sembako, BLT, ataupun PKH. Padahal, kondisinya jelas layak dibantu.
Tubuhnya yang kian kurus dan wajahnya yang pucat menatap langit-langit rumah seolah berbicara tanpa suara — tentang rasa lapar, kesakitan, dan kesepian .
Sesekali ia mencoba tersenyum ketika ada warga yang menjenguk. Senyum lemah yang seolah berkata, “Saya masih hidup, meski entah sampai kapan.”
Kini, warga sekitar berharap pemerintah daerah dan dinas sosial Takalar segera turun tangan membantu. Tidak hanya untuk Daeng Nyengka, tapi juga bagi warga lain yang mungkin bernasib sama — hidup di pinggiran, terabaikan oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Di tengah semangat pembangunan dan slogan keadilan sosial, kisah Daeng Nyengka adalah kecerdasan bagi nurani bersama.
Apakah alat kesejahteraan bila masih ada rakyat yang sakit, lapar, dan sendirian menunggu uluran tangan?








