Kacau “Ahli Serangga Urus Gizi”, Netizen Sindir Kepala BGN Dadan Hindayana

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (ist/IG)

inetnews.co.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto kini menuai polemik besar.

Alih-alih menyehatkan siswa, program ini justru menimbulkan kasus keracunan massal hingga ribuan anak di berbagai daerah.

Data Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mencatat, jumlah korban keracunan akibat program MBG kini mencapai 7.368 siswa per Jumat (26/9/2025).

google.com, pub-5264003758213913, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan catatan Badan Gizi Nasional (BGN) yang sebelumnya melaporkan 5.914 kasus sepanjang Januari–September 2025.

Kasus keracunan MBG telah menyebar di 52 kabupaten/kota dengan jumlah korban terbanyak di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di wilayah Pongkor saja, tercatat 1.333 siswa menjadi korban.

Seiring mencuatnya kasus ini, sosok Kepala BGN, Dadan Hindayana, langsung jadi sorotan tajam publik.

Pasalnya, latar belakang akademis Dadan bukan dari bidang gizi, melainkan entomologi (ilmu tentang serangga) dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

BACA JUGA  Capaian 100 Hari Kerja Bupati Enrekang Muh.Yusuf Ritangnga-Andi Tenri Liwang Berjalan Luar Biasa

Kariernya ditempa hingga Jerman dengan fokus pada proteksi tanaman, hama, dan serangga. Namun, lewat Keputusan Presiden Nomor 94P Tahun 2024, ia dipercaya memimpin lembaga yang berperan vital dalam ketahanan gizi nasional.

Tangkapan layar video- Sejumlah siwa siswi di Indonesia keracunan MBG (Foto kolase)

Fakta itu memicu gelombang kritik netizen. Media sosial ramai dengan komentar satir dan pedas.

“Kacau, ahli serangga urus gizi,” tulis akun @Ichal.

“Setiap pekerjaan jika diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya,” timpal akun @Abdulrozak.

“Pantesan banyak siswa keracunan, dia pikir siswa itu serangga,” sindir akun @Kanjeng Jihan.

“Mantap, ahli belatung jadi ahli gizi. Montir sepeda ontel disuruh bongkar mesin mobil, ya hancur semua,” cuit akun @YaSin.

Tak sedikit pula yang menilai penunjukan Dadan menunjukkan lemahnya manajemen SDM di lingkup pemerintahan.

BACA JUGA  Uji Coba MBG di SD Borong Makassar Hadirkan Konsep Dapur Sekolah

Menurut BGN, penyebab utama keracunan MBG berasal dari berbagai bakteri berbahaya.

E-coli ditemukan pada air, nasi, tahu, dan ayam.

Staphylococcus aureus pada tempe dan bakso.

Salmonella pada ayam, telur, dan sayur.

Bacillus cereus pada mie.

Selain itu, sejumlah sumber air juga terkontaminasi coliform, Klebsiella, hingga Proteus.

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, bahkan menitikkan air mata saat mengakui kelemahan pengawasan.

“Kami mengaku salah atas insiden pangan ini. Sewaktu anak sakit, itu adalah tanggung jawab kami. Kesalahan kami sebagai pelaksana yang harus diperbaiki total,” ucapnya, Jumat (26/9/2025).

Meski begitu, Nanik menegaskan program MBG tetap penting untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia, meski perlu evaluasi total.

Desakan Moratorium Program MBG

CEO CISDI, Diah Saminarsih, mendesak pemerintah melakukan moratorium MBG demi mencegah jatuhnya korban baru.

BACA JUGA  Siswi SMKN 1 Cihampelas Meninggal Mendadak, Keluarga Sebut Gejala Muntah dan Kejang

“Dengan korban yang mencapai 7.368 siswa, kami mendorong pemerintah agar menghentikan sementara program MBG,” tegasnya.

Selama masa moratorium, Diah meminta anggaran dialihkan untuk memperbaiki tata kelola, regulasi, dan memperkuat kapasitas kelembagaan BGN.

“Harapan kami ini bisa membalik keadaan yang sekarang sudah kacau, supaya tidak ada lagi korban,” ujarnya

Editor: Tim/ID Mr
Follow Berita: Inet News di TikTok