Home  

Di Balik Tawa dan Tarian, Siswa Kelas VA SD Inpres 1 Rayakan Hardiknas dengan Cinta Budaya Nusantara

inetnews.co.id– Pagi itu, suasana SD Inpres 1 Batua Kecamatan Manggala Kota Makassar tidak seperti biasanya. Riuh suara anak-anak terdengar lebih semangat, langkah kaki kecil berlarian memenuhi halaman sekolah, sementara di tengah lapangan, kain-kain warna-warni dan properti sederhana mulai ditata menjadi sebuah panggung kecil yang sarat makna.

Di balik kesederhanaannya, hari itu menyimpan sesuatu yang istimewa.

Siswa kelas VA SD Inpres 1 Batua Makassar tengah bersiap menampilkan pentas seni dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap 2 Mei. Namun, ini bukan sekadar pertunjukan biasa. Ini adalah ruang bagi anak-anak untuk bercerita, tentang budaya, tentang mimpi, dan tentang keberanian menjadi diri sendiri.

Sebanyak 34 siswa yang terbagi dalam enam kelompok tampil dengan penuh semangat. Mereka bukan hanya menari atau berakting. Mereka menghadirkan Indonesia dalam versi kecil, dengan segala warna, gerak, dan cerita yang mereka pahami dengan cara mereka sendiri.

Di bawah bimbingan wali kelas Muhammad Ruslan, S.Pd. M.Pd, kegiatan ini telah menjadi tradisi yang terus dijaga. Setiap tahun, pentas seni digelar bukan sekadar untuk merayakan Hardiknas, tetapi untuk menanamkan sesuatu yang jauh lebih dalam kecintaan terhadap seni dan budaya bangsa.

“Anak-anak ini mungkin belum sepenuhnya memahami makna besar dari pendidikan. Tapi lewat seni, mereka belajar merasakan. Mereka belajar mencintai budaya mereka sendiri,” ujar Ruslan dengan mata berbinar, memandu murid-muridnya bersiap tampil di panggung.

BACA JUGA  Prabowo Beri Abolisi Tom Lembong dan Amnesti ke Hasto, Sinyal Politik Penghapus Dendam?

Tak jauh dari sana, Hijrah Nurja Husma , S.Pd., M.Pd., selaku Kepala UPT SD Inpres Batua Makassar, duduk sebagai penilai, memperhatikan jalannya acara. Baginya, apa yang terjadi hari itu adalah potret kecil dari arah pendidikan masa depan.

“Kita tidak hanya ingin mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga kreatif, berani, dan memiliki karakter. Seni adalah salah satu jalannya,” katanya.

Pentas seni ini pun menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran tidak harus selalu terjadi di balik meja dan buku. Ada ruang lain yang justru lebih hidup di panggung kecil, di antara tawa, di balik rasa gugup yang perlahan berubah menjadi percaya diri.

Kelompok demi kelompok tampil dengan ciri khas masing-masing. Ada yang membawakan tarian tradisional dengan gerakan luwes meski masih sederhana, ada pula yang menampilkan drama tentang pentingnya menjaga budaya di tengah derasnya pengaruh modernisasi.

Menariknya, beberapa kelompok yang menggabungkan unsur tradisional dengan sentuhan modern. Gerakan tari yang dikreasikan sendiri menjadi simbol bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku, tetapi hidup dan bisa berkembang bersama zaman.

Di antara sorotan mata penonton, terlihat wajah-wajah kecil yang awalnya tegang perlahan berubah menjadi lega dan bahagia setelah menyelesaikan penampilan mereka. Tepuk tangan pun bergema, bukan karena kesempurnaan, tetapi karena keberanian.

Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika seorang siswa yang sebelumnya dikenal pemalu akhirnya tampil di atas panggung. Dengan langkah ragu di awal, ia mengikuti irama musik bersama kelompoknya. Tak sempurna, namun penuh usaha.

BACA JUGA  Kampoeng Eropa di Gowa, Destinasi Wisata Baru yang Menarik Wisatawan

Usai tampil, ia tersenyum lebar.

“Tadinya takut sekali, tapi teman-teman bilang bisa. Jadi saya coba,” ucapnya singkat, namun cukup menggambarkan betapa besar arti pengalaman itu bagi dirinya.

Bagi orang tua yang hadir, pentas seni ini bukan hanya hiburan, tetapi juga kebanggaan. Mereka melihat bagaimana anak-anak mereka tumbuh, bukan hanya dalam nilai pelajaran, tetapi juga dalam keberanian dan ekspresi diri.

“Kami terharu melihat anak-anak tampil. Ini bukan soal bagus atau tidak, tapi soal keberanian mereka. Itu yang paling penting,” ujar salah satu orang tua siswa.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai penting dalam dunia pendidikan, termasuk salah satu aspek transformasi pendidikan yang menekankan peningkatan kreativitas, khususnya dalam seni dan gerak.

Melalui kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pelaku. Mereka belajar mengenal, memahami, dan pada akhirnya mencintai budaya Indonesia dengan cara yang alami dan menyenangkan.

Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, di mana budaya luar begitu mudah masuk, kegiatan sederhana seperti ini menjadi benteng kecil yang menjaga identitas.

Anak-anak ini mungkin belum menyadari sepenuhnya, tetapi langkah-langkah kecil mereka di atas panggung hari itu adalah bagian dari perjalanan panjang menjaga warisan bangsa.

BACA JUGA  Gempa 7,6 Guncang Jepang, Peringatan Tsunami Diterbitkan

Ketika musik berhenti dan acara perlahan usai, yang tersisa bukan hanya kenangan pertunjukan. Ada rasa bangga, ada kepercayaan diri yang tumbuh, dan ada benih kecintaan terhadap budaya yang mulai berakar.

Pentas seni kelas VA SD Inpres 1 Batua Makassar bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah cermin bahwa pendidikan sejatinya adalah tentang memanusiakan manusia, memberi ruang untuk tumbuh, berekspresi, dan menemukan jati diri.

Dalam tawa anak-anak, dalam gerakan tari yang mungkin belum sempurna, tersimpan harapan besar tentang masa depan.

Bahwa suatu hari nanti, dari panggung kecil seperti inilah, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudaya, berkarakter, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Dan pada akhirnya, itulah makna sejati dari Hari Pendidikan Nasional, bukan sekadar seremoni, tetapi perayaan atas proses tumbuhnya manusia-manusia muda yang belajar, bermimpi, dan berani melangkah.(tim)