inetnews.co.id — Kasus dugaan pencabulan terhadap anak berusia 9 tahun oleh oknum ustaz di TPA Masjid Borong, Makassar, kini sedang dalam proses penyelidikan oleh Polrestabes Makassar.
Laporan polisi dengan nomor LP/270/II/2025/Polda Sulsel/Restabes Mks telah diterima pada tanggal 17 Februari 2025.
Keluarga korban menegaskan menolak segala upaya damai yang diajukan oleh pihak terkait.
Kronologi Kejadian
Kasus ini terungkap setelah ibu korban mendapatkan informasi dari tempat futsal di wilayah Borong pada Minggu, 16 Februari 2025.
Saat itu, ibu korban mendengar dari beberapa ibu-ibu yang sedang menemani anaknya bermain futsal bahwa oknum ustaz di tempat pengajian Masjid Borong tersebut dinilai kurang baik.
“Ibu-ibu itu mengatakan kepada saya, ‘Mengapa anak ibu dibiarkan bergaul dengan oknum ustaz itu?’
Dari informasi itu, saya pun bertanya kepada anak saya dengan baik-baik. Akhirnya, anak saya mengaku bahwa dia kasih begitu (disodomi) oleh ustaz tersebut,” ujar orang tua korban yang dikonfirmasi zonafaktualnews.com (Media partner inetnews.co.id )pada Selasa (25/2/2025).
Orang tua korban menjelaskan bahwa awalnya anaknya takut untuk mengungkapkan kejadian tersebut.
Setelah dibujuk, korban akhirnya menangis dan menceritakan bahwa kejadian itu berlangsung sejak dia duduk di kelas 1 Sekolah Dasar (SD).
“Anak saya berusia 9 tahun sekarang sudah kelas 3 SD. Saat dia masih kelas 1 SD, dia diiming-imingi makanan, camilan, dan uang oleh ustaz tersebut hingga akhirnya dikasih begitu.
Anak saya bercerita bahwa kelamin oknum ustaz itu dimasukkan ke duburnya, dan saat itu dia merasa sakit hingga berdarah,” tuturnya.
Setelah mendengar pengakuan anaknya, orang tua korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Makassar.
Keluarga korban juga telah melakukan visum medis dan saat ini menunggu hasilnya.
Pengakuan Ustaz : “Saya Juga Pernah Jadi Korban”
Orang tua korban menduga bahwa pelaku melakukan perbuatan tercela tersebut karena dia juga pernah menjadi korban dari ustaz seniornya.
“Ini pelaku sekaligus korban dari ustaz seniornya. Informasi ini saya dapatkan dari seorang ustaz yang ingin mendamaikan kasus anak saya.
Dia menghubungi suami saya dan bahkan datang ke rumah, katanya untuk melindungi nama masjid,” ungkap orang tua korban.
Ustaz senior tersebut terus menghubungi keluarga korban untuk meminta agar kasus ini tidak dilaporkan.
“Mereka ini saling ancam-mengancam. Ustaz senior itu bilang, ‘Kalau sampai dilaporkan, saya juga akan melaporkan yang lainnya,” kata orang tua korban menirukan ucapan ustaz senior itu.
Kendati begitu, keluarga korban tetap menolak segala upaya damai yang diajukan.
“Ini bukan masalah biasa, ini masalah yang sangat serius. Kami merasa tersinggung dengan tawaran damai itu. Kami memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke pihak berwajib,” tegasnya.
Kasus Terungkap Setelah 3 Tahun
Orang tua korban mengungkapkan bahwa anaknya baru berani menceritakan kejadian tersebut setelah dibujuk.
“Anak saya ini baru mengatakan setelah saya bujuk, ternyata kasus ini sudah 3 tahun disembunyikan namun baru terungkap,” katanya.
Selain itu, orang tua korban juga menyatakan bahwa perbuatan sodomi tersebut dilakukan oleh oknum ustaz terhadap korban berkali-kali.
“Saya bertanya kepada anak saya, berapa kali ustaz itu melakukan sodomi padanya. Satu kali, dua kali, atau 3 kali? Anak saya menjawab, ‘Tak bisakah hitung, ibu.’ Itu dia bilang,” ujar orang tua korban.
Orang Tua Korban Memberhentikan Anak dari TPA
Orang tua korban memutuskan untuk menghentikan anaknya dari kegiatan di TPA Masjid Borong tersebut usai menemukan tindakan-tindakan tidak wajar yang dialami oleh sang anak.
“Saya sudah satu tahun menghentikan anak saya di TPA itu karena saya mendapatkan info bahwa anak saya sering dikirimkan situs-situs negatif di HP-nya. Situs itu didapatkan dari orang-orang di masjid,” ujar orang tua korban.
Lebih lanjut, orang tua korban menceritakan bahwa anaknya sering menjadi korban setiap hari Jumat.
“Setiap Jumat, anak saya sering dikasih begitu di masjid,” sambungnya.
Keputusan untuk menghentikan anak dari TPA diambil setelah orang tua korban merasa curiga dengan perubahan perilaku anaknya.
“Saya merasa ada yang tidak beres. Anak saya terlihat sering ketakutan dan tidak nyaman saat diajak ke masjid. Setelah saya tanya dengan baik-baik, barulah dia mengaku,” ungkapnya.
Korban Sempat Diancam
Orang tua korban juga mengungkapkan bahwa anaknya sempat diancam untuk tidak memberitahukan kejadian tersebut.
“Jadi anak saya itu sempat diancam juga untuk tidak memberitahukan persoalan ini,” pungkasnya.
Belum Ada Klarifikasi dari Pihak Masjid
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari pihak TPA Masjid Borong terkait kejadian tersebut.
Media ini membuka ruang klarifikasi bagi pihak masjid untuk memberikan tanggapan atau penjelasan lebih lanjut.
Keluarga korban berharap kasus ini dapat diselesaikan secara hukum dan tidak ada upaya untuk menutupi kejadian tersebut.
“Kami ingin keadilan untuk anak kami dan agar pelaku tidak bisa lagi melakukan hal serupa kepada anak-anak lain,” pungkasnya.
Saat ini, proses penyelidikan masih berlangsung, dan pihak kepolisian belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan kasus ini.
Editor: Zona/Id
Follow Berita Inetnews.co.id di Google News